Facebook – Post Today

20111012-094214.jpgSorry yah, menurut saya memang pegawai negeri itu sudah “obesitas” secara struktur dan jumlah, saya ngga tau ada yg punya data ngga ? Tapi sejak sepuluh tahun lalu saat saya magang di salah satu kantor PNS, memang luar biasa, tiap tahun satu departemen bisa merekrut lebih dari 100 karyawan, tanpa ada pemekaran job desc, atau penambahan struktur .. Jadinya mereka meluap ke : Mall, Warkop, Pulang cepat dlll..

Yang mengherankan , hampir 70 % lulusan Mahasiswa kita cita citanya tinggi sekali jadi PNS …

Sorry teman2 PNS, bukan pekerjaannya, tapi managemen yg salah membuat pekerjaan ini bias dan jauh dari maksimal, walaupun tidak semua bagian seperti itu, tapi sangat jamak .

Apalagi bicara masalah pelayanan masyarakat, hancurrrrr bangetttt
Di gaji oleh masyarakat, tapi petugas KTP datangnya jam 12, Camat kerjanya jalan melulu, Lurah juga..

Semoga pemerintah sekarang langsung memberikan perhatian ..

Kesimpulan saya ( walau berbeda dan tidak populer ) , memilih pemimpin mesti dasarnya norma agama , susila, dan moralitas karena hal hal itu adalah software , sesuatu yg melatar belakangi keputusan secara kejiwaan , intuisi , dan menjadi rujukan saat masalah duniawi terasa terlalu berat .

Otak pun akan give up saat jiwa bermasalah.
Ini adalah soft-competent , base variabel .

Skill dan faktor pendukung kinerja seperti pengalaman , etos kerja , ketegasan dll adalah produk manusiawi yg bisa di asah dan di kembangkan . Ini adalah hardware nya .

Jadi step nya jelas , operatornya nya bukan OR tapi mesti AND .

Pilih pemimpin yg mengerti agama , DAN cakap di bidangnya , bukan pilih pemimpin yg mengerti agama ATAU yang cakap di bidangnya .

Seharusnya bukan beliau yg jadi menteri , seharusnya masih ada yg lebih baik IMHO ..

Mengapa standar agama dan moralitas penting? Jawabannya karena dunia tidak abadi , akhirat lah yg abadi, yg di bawa ke akhirat bukan cuman prestasi duniawi tapi nilai religi dan moral ‘ dan dalam Islam yg paling penting seberapa besar ketaatan kita kepada Sang Empunya Akhirat .

Jadi mesti seimbang dunia dan akhirat , jangan hanya berbangga prestasi duniawi lalu atas nama hal itu sudah tidak mau lagi memperbaiki akidah moral dan nilai ibadah . Karena justru unsur itu yg paling besar pengaruhnya dunia akhirat .

Kalau ada sahabat kita yg perangainya luar biasa baik , kerjanya luar biasa hebat ,otaknya luar biasa genius tapi tdk shalat, tidak puasa dan rajin maksiat , maka kesimpulannya bukan shalat puasa dan maksiat tdk ngefek ke kehidupan dunia nya tapi , mesti kita rubah pola pikir kita , bayangkan …

tidak shalat , tidak puasa, dan maksiat saja sahabat itu hebat dan baik , apalagi kalau puasa kalau shalat dan kalau tdk bermaksiat

Subhanallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s